BATAKOM

  • Rabu, 03 Juni 2020 - 22:59:12 WIB
  • HARRY SUPRIYADI
BATAKOM

BATAKOM (BATA Kombinasi Feed Block) Pemanfaatan Limbah sebagai PAKOM (Pakan Komplit) Bernutrisi Tinggi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bobot Badan Ternak

Oleh : NINING KHAIRUNNISA S.Pt

Pakan merupakan faktor produksi paling utama dalam usaha peternakan terutama pada usaha ternak ruminansia, dimana dalam pemeliharaan secara intensif biaya pakan mencapai 70%. Pemeliharaan ternak ruminansia seringkali terhambat oleh ketersediaan pakan secara musiman yang berkualitas baik, terutama pada saat musim kemarau yang mengakibatkan ternak kehilangan bobot badan, bobot lahir anak rendah, daya tahan terhadap penyakit rendah dan penurunan performa ternak. Hal ini menyebabkan pengembangan ternak sangat sulit dijalankan oleh masyarakat, karena banyaknya biaya yang dikeluarkan dan jarang mendapatkan keuntungan jika terus beternak secara konvensional seperti di Indonesia.

Indonesia merupakan negara berkembang dengan kepadatan penduduk peringkat 4 tertinggi didunia setelah China, India, dan Amerika Serikat, dengan total jumlah penduduk sebanyak 267 juta jiwa pada tahun 2018 (Bappenas, 2018). Hal ini menyebabkan tingginya aktifitas yang berdampak pada peningkatan produksi limbah dan tingginya tingkat kebutuhan masyarakat akan daging, sehingga mengakibatkan timbulnya permasalahan pencemaran lingkungan dan kurangnya tingkat penyediaan nutrisi bagi masyarakat.

Tingginya tingkat produksi limbah di Indonesia, jika terus dibiarkan akan mengakibatkan kurangnya tingkat kesehatan masyarakat. Karena menurut Sukaryani (2018), Indonesia dikenal sebagai Negara produksi limbah tinggi seperti jerami padi sebanyak 73,36 juta ton, jerami jagung dan lain sebagainya yang diproduksi setiap tahun dengan kandungan gizi yang tinggi jika dimanfaatkan. Salah satu cara pemanfaatannya dapat dijadikan sebagai pakan ternak. Untuk menekan biaya produksi pakan sangat diperlukan bahan baku dengan harga murah, mudah didapat dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi bagi ternak seperti limbah jerami jagung, jerami padi, jerami gandum, jerami sorgum, ampas tebu, ampas kedelai, limbah rumah tangga dan lain sebagainya. Adapun kandungan nutrisi yang terdapat pada limbah adalah sebagai berikut : jerami jagung bagian batang PK 3,7%, BK 51%, daun PK 7,0%, BK 58% (WILSON et al., 2004). Jerami padi PK 6,23%, BK 86,82%, LK 0,80% (Mayulu dan Suhardi, 2012). Jerami sorgum : sukrosa (70%), glukosa (20%), dan fruktosa (10%) (Prasad et al., 2007).

Kandungan yang tinggi tersebut jika tidak dimanfaatkan secara optimal akan menyebabkan terbuangnya bahan lokal yang masih potensial untuk dijadikan sebagai pakan bernutrisi dan meningkatnya pencemaran lingkungan dari limbah yang sangat melimpah. Hal ini tentu sangat merugikan bagi peternak dan masyarakat secara umum karena tidak memanfaatkan limbah yang masih berpotensi sebagai pakan ternak sehingga berakibat terjadinya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, sangat diperlukan inovasi sederhana yang lebih murah, efektif, efisien dan mudah dalam pengolahannya. Salah satu cara pemanfaatan limbah adalah dijadikan sebagai pakan komplit yang nantinya akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat serta dapat meningkatkan produksi ternak di Indonesia.

Dari permasalahan dan potensi yang ada, penulis memiliki inovasi untuk memanfaatkan limbah sebagai pakan komplit “Pakom_BATAKOM”. Pakom_BATAKOM (“BATA Kombinasi Feed block”) merupakan pakan komplit yang dapat meningkatkan produksi daging dan susu serta mampu mendatangkan keuntungan usaha budidaya ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba). Pakom_BATAKOM tersusun atas bahan-bahan seperti konsentrat, molases, serta zat-zat nutrisi tambahan yang dikombinasikan dengan limbah pertanian dan perkebunan sehingga mampu memenuhi kebutuhan nurisi ternak. Hal ini sangat didukung oleh pendapat Haryanto (2009) yang menyatakan, peningkatkan produktivitas ternak dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pakan lokal dari limbah pertanian, perkebunan dan agroindustri melalui sistem integritas ternak.

Pembuatan Pakom_BATAKOM dikombinasikan dengan bahan-bahan tambahan yang bernutrisi seperti dedak padi yang memiliki kandungan PK 12,9%, lemak 13%, SK 11,4%, Ca 0,07%, P 0,22%, Mg 0,95%, dan kadar air 9% (Saputra, 2015). Utami (2011) menyatakan, dedak padi mengandung BK 88,93%, PK 12,39%, SK 12,59%, kalsium 0,09% dan posfor 1,07%. Dedak padi sangat berpotensi sebagai pakan ternak karena mempunyai kandungan gizi yang tinggi, harga relatif murah, mudah diperoleh dan penggunaannya tidak bersaing dengan manusia (Astawan dan Febrinda, 2010). Selain itu, bahan tambahan molases mengandung sukrosa, glukosa, fruktosa dan rafinosa dalam jumlah yang besar serta terdapat bahan organik non gula (Yanuartono et al., 2017).

Pemanfaatan molases dapat dijadikan sebagai perekat pada pembuatan Pakom_BATAKOM. Dalam pemanfaatan limbah, selain penggunaan molases dapat juga memanfaatkan limbah batang sorgum. Limbah batang sorgum dapat dimanfaatkan dengan cara diperas. Ampas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan Pakom_BATAKOM serta air dapat dimanfaatkan sebagai perekat pada Pakom_BATAKOM. Sorgum memiliki kandungan sukrosa (70%), glukosa (20%), dan fruktosa (10%) (Prasad et al., 2007). Dengan kandungan tersebut limbah sorgum sangat bagus untuk dijadikan sebagai pakan yang dapat mencukupi kebutuhan ternak.

Pakom_BATAKOM berbentuk persegi panjang yang merupakan perkembangan teknologi pakan baru bertujuan untuk memanfaatkan potensi sumberdaya pakan ternak yang tersedia secara lokal, lebih efisien serta penggunaan pakan non-konvensional dengan cara yang lebih baik sehingga menjadikan budidaya ternak sebagai usaha yang layak dan menguntungkan secara ekonomi. Selain itu, produksi Pakom_BATAKOM dapat dijadikan sebagai usaha baru yang sangat menjanjikan bagi masyarakat, karena banyak diminati oleh peternak untuk dijadiakan pakan ternaknya.

Kelebihan Pakom_BATAKOM terdiri atas 1) hemat dan praktis karena pengangkutan pakan dalam jumlah besar lebih mudah, dimana pakan berbentuk BATA yang menghemat waktu dan tenaga kerja, 2) Berkualitas karena memenuhi zat-zat nutrisi ternak sehingga dapat meningkatkan produksi daging dan susu ternak ruminansia. 3) Produk tahan lama yang bisa disimpan ± 1 tahun sehingga membantu penyediaan pakan pada saat terjadinya kelangkaan pakan atau paceklik pakan hijauan musim kemarau, serta 4) Ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan-bahan pakan limbah yang tersedia secara lokal, menghasilkan emisigas methan rendah dari ternak.


Pakom_BATAKOM dapat diberikan secara bertahap, dimana pada awalnya diberikan dalam jumlah sedikit, kemudian setelah ± 15 hari dapat diberikan secara utuh sesuai bobot badan ternak. Pemberian Pakom_BATAKOM akan lebih baik lagi jika dikombinasikan dengan rumput disaat persediaan rumput melimpah, karena tanpa pemberian rumputpun nutrisi ternak telah tercukupi dengan Pakom_BATAKOM yang memiliki nutrisi tinggi, sehingga pakan ini dapat dijadikan sabagai “Jagonya Pakan Musin Kemarau”.

Pakom_BATAKOM dapat diberikan 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan sore dengan takaran 3% dari bobot badan ternak. Jika dikombinasikan dengan rumput, pemberian pakan dapat diberikankan dengan takaran 1,5% Pakom_BATAKOM dan 5% pakan rumput segar dari bobot badan.

Cara penyimpanan Pakom_BATAKOM harus disimpan pada tempat kering dan terlindungi dari tikus serta serangga lain. Jika penyimpanan dalam jangka waktu terlalu lama yang menyebabkan timbulnya jamur, Pakom_BATAKOM harus dijemur dan dipisahkan dari jamur terlebih dahulu sebelum pemberian pada ternak agar Pakom_BATAKOM tetap memberikan dampak yang positif bagi ternak.

Berdasarkan uraian diatas, inovasi Pakom_BATAKOM sangat menjanjikan bagi masyarakat karen dapat memanfaatan limbah sebagai pakan ternak yang bernutrisi tinggi, sehingga sangat menjanjikan untuk mengembangan produksi ternak di Indonesia. Selain itu, inovasi ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pakan persediaan musim kemarau serta dapat dijadikan sebagai lahan usaha yang meningkatkan ekonomi bagi masyarakat.

Selamat Mencoba Pakom_BATACOM

  • Rabu, 03 Juni 2020 - 22:59:12 WIB
  • HARRY SUPRIYADI

Berita Terkait Lainnya

Tidak ada artikel terkait