PASCA-Bijak (Penggunaan Antibiotik Secara Bijak)

  • Rabu, 03 Juni 2020 - 23:18:22 WIB
  • HARRY SUPRIYADI
PASCA-Bijak (Penggunaan Antibiotik Secara Bijak)

PASCA-Bijak (Penggunaan Antibiotik Secara Bijak) Untuk Mencegah Infeksi Secara Dini pada Ternak

NINING KHAIRUNNISA’ S.Pt

Daging merupakan produk peternakan yang mengandung asam amino essensial yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Namun, sampai saat ini Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan daging masyarakat karena produksi daging dalam negeri masih jauh dibawah permintaan. Hal ini disebabkan karena sapi yang dijadikan sebagai penghasil daging rentan terhadap bakteri pathogen C. jejuni, sehingga Indonesia harus melakukan impor produk peternakan dari luar negeri untuk memenuhikebutuhannutrisimasyarakat.

Bakteri C. jejuni bersifat zoonosis, dimana penyebarannya dapat terjadi melalui ternak ke manusia karena mengonsumsi daging yang terinfeksi dengan ternak yang menderita campylobacteorisis.C. jejuni dapatmenyebabkan gangguan pada pencernaan dandiaremelalui invasi kedalam usus halus dan usus besar yang dapat menghasilakan 2 tipe toksin yaitu cytotoxin dan heat labileenterotoxin. Hal tersebut sangat merugikan bagi peternak dan masyarakat secara umum. Mengapa demikian? karena sapi yang terinfeksi dengan bakteri C.jejuni akan menyebabkan nafsu makan, pertumbuhan, produksi susu, dan kualitas daging akan menurun, sehinggaperformance dari sapi menjadi buruk dan produksi daging terus menurun.

Obat yang biasa digunakan untuk mengatasi penyakit infeksi bakteri adalah antibiotik eritromisin dengan dosis 500 mg yang diberikan 2 kali dalam sehari selama 5 har i secara berturut-turut, serta diberikan pengganti cairan dan elektrolit. Selain itu, dapat diberikan pengobatan menggunakan antibiotik ciprofloxacin pada kelas floroquinolones yang mampu mencegah dan membunuh bakteri C. jejuni, sehingga penggunaan ciprofloxacin lebih ampuh dibandingkan dengan eritromisin karena ciprofloxacin dapat membunuh bakteri C. jejuni. Cara penggunaan antibiotik yang berturut-turut dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Mengapa demikian? Karena penggunaan antibiotik secara meluas dan irasional serta penggunaan antibiotik sebagai suplemen perangsang yang berlebihan menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik.

WHO 2011 menyatakan ‘’AntimicrobacterialResistanceand it’s Globalsepread’’ dimana harus digalakkan pengobatan secara rasional yang meliputi cara pengobatan, dosis, lama penggunaaan serta biaya yang tepat. Oleh karena itu, penggunaan alat yang cepat, akurat, dan sederhana untuk mendeteksi adanya bakteri C. jejuni sebelum penggunaan antibiotik sangat diperlukan agar dapat mengendalikan penyakit infeksi pada sapi secara dini dalam penggunaan antibiotik secara bijak.

Dari permasalahan dan potensi yang ada penulis memiliki sebuah inovasi yang dapat digunakan untuk mendeteksi sapi sebelum penggunaan antibiotik, sehingga penggunaan antibiotik hanya digunakan dalam keadaan darurat. Inovasi yang diciptakan yaitu alat pendeteksi darah pada sapi dengan singkatan ‘‘ICT’’ (Imunochromatographic Test).

Imunochromatographicmerupakanpemeriksaansecara manual dengan hasil yang cepat serta bekerja dengan menggunakan kartu kit yang memiliki prinsip sama dengan ELISA (EnzymeLinkedImmunosorbentAssay). Prinsip dari pemerisksaan serologirepaidimunochromatographic adalah mendeteksi antigen berdasarkan reaksi kompleks antigen antibodi pada bahan nitroselulosaasetat yang diberikan marker monoclonal antibodi (Mab) dan berlabel zat warna sebagai penanda, dan antigen yang bersifat non spesifik harus dipisahkan, sehingga muncul tanda positif atau negatif sebagai hasil yang didapatkan.

ICT dianggap positif apabila 2 baris nampak diantara garis control dan garis uji. Hasil dikatakan negatif ketika hanya garis control saja yang terlihat, dan jika tidak ada garis yang muncul atau hanya garis uji muncul, maka hasilnya dianggap tidak valid. ICT dikatakan sebagai uji yang lebih cepat dan mudah dilakukan. Mengapa demikian? Karena tidak memerlukan alat-alat laboratorium secara khusus seperti sentrifuce dan mikroskop, sehingga uji ini sangat praktis digunakan dilapangan untuk menguji darah sapi, dengan tujuan mengetahui sapi yang terinfeksi bakteri C.jejuni. ICT dapat mendiagnosa dengan cepat, akurat dan efektif untuk mengatasi infeksi penyakit yang disebabkan oleh mikroba pathogen C. jejuni. Penggunaan alat ini dirujukkan sangat menguntungkan untuk mendeteksi sapi yang terinfeksi bakteri C. jejuni dan dapat mengurangi penggunaan antibiotik karena sapi yang terinfeksi menurun. Berdasarkan hal tersebut, upaya ini sangat mengurangi penggunaan antibiotik dan dapat diterapkan sebagai suatu inovasi baru dalam kehidupan untuk meningkatkan produksi daging sehat di Indonesia dengan mencegah penggunaan antibiotik yang berlebihan, sehingga penggunaan antibiotik dapat di lakukansecarabijak.

  • Rabu, 03 Juni 2020 - 23:18:22 WIB
  • HARRY SUPRIYADI

Berita Terkait Lainnya