Saatnya Memberdayakan Usaha Pengolahan Hasil Peternakan

  • Selasa, 09 Juni 2020 - 14:37:22 WIB
  • drh. S. Wahyudi, M.Si
Saatnya Memberdayakan Usaha Pengolahan Hasil Peternakan

Oleh: Drh. Suryatman Wahyudi, M.Si*

Usaha pengolahan hasil Peternakan (UPH) yang tergolong dalam usaha industri kecil  dan menengah  (IKM) telah mewarnai perkembangan usaha lainnya dalam beberapa dekade terakhir saat sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri peran Industri kecil dan menengah (IKM) sebagai bagian dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah unit usaha yang berjumlah 4,4 juta unit dan merupakan lebih dari 99 persen dari unit usaha industri nasional. Peran tersebut juga tercermin dari penyerapan tenaga kerja IKM yang menyerap lebih dari 10,5 juta orang pada tahun 2019 dan merupakan 65 persen dari total penyerapan tenaga kerja sektor industri secara keseluruhan.

Dengan kontribusi tersebut, IKM memiliki peran yang cukup penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas social, dan pengembangan sektor swasta yang dinamis. Disamping itu IKM juga memiliki ragam produk yang sangat banyak, mampu mengisi wilayah pasar yang luas, dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat luas serta memiliki ketahanan terhadap berbagai krisis yang terjadi.

Dengan karakteristik tersebut, maka tumbuh dan berkembangnya IKM akan memberikan andil yang sangat besar dalam mewujudkan ekonomi nasional yang tangguh, dan maju yang berciri kerakyatan. Pengembangan produk IKM seperti standarisasi, sertifikasi produk, kemasan, penguatan sentra IKM dan branding produk dengan membuat satu produk untuk satu desa (one village one product).

Merujuk Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat tentang Desa Wisata, dimana penetapan 99 desa wisata menjadi fokus untuk diintervensi dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, melalui penguatan-penguatan fisik dan layanan-layanan umum wisata. Kaitan dengan pengembangan UPH dapat diarahkan sebagai daya tarik desa wisata tersebut dengan produk-produk yang mendukung perkembangan desa wisata.

Di Kabupaten Lombok Timur sendiri tercatat 57 kelompok usaha pengolahan hasil peternakan dengan berbagai produk seperti telur asin, kerupuk kulit, abon daging ayam, abon daging sapi, bakso, nugget dan sossis dengan pemasaran ke berbagai wilayah kecamatan di Lombok Timur, ke luar kabupaten baik Lombok Barat maupun  Mataram, bahkan dengan memanfaatkan penjualan online, produk UPH kita telah dipasarkan sampai luar daerah seperti Bali dan beberapa kota di Pulau Jawa.  

Keberadaan UPH di Lombok Timur telah mampu menggerakkan roda perekonomian di tingkat pedesaan, sejauh ini omzet dari kelompok-kelompok ini mencapai  ratusan juta rupiah dan telah menciptakan lapangan pekerjaan serta penyerapan tenaga kerja yang tidak sedikit. Sebagai contoh, dalam produksi normal seperti sebelum merebaknya wabah corona (Covid-19), kelompok UPH dapat berproduksi dengan omset penjualan berkisar antara 5 juta Rupiah sampai 60 juta Rupiah per bulan. Tetapi semenjak Covid-19 omset penjualan turun drastis bahkan ada kelompok yang terpaksa berhenti berproduksi karena tidak ada pesanan.

Kedelapan belas desa wisata yang berada di kabupeten Lombok Timur antara lain desa Tetebatu, Kembang Kuning dan Jeruk Manis, dimana ketiganya berada di kecamatan Sikur. Selanjutnya desa Pringgasela di kecamatan Pringgasela. Kecamatan Keruak meliputi desa Tanjung Luar. Kecamatan Jerowaru antara lain desa Sekaroh, desa Seriwe dan desa Jerowaru. Selanjutnya kecamatan Lenek meliputi desa Lenek Rambanbiak dan desa Lenek Pesiraman. Desa Bebidas mewakili kecamatan Wanasaba. Kecamatan Suela yaitu diwakili desa Sapit.

Selanjutnya di ujung Timur diwakili oleh kecamatan Sambelia, meliputi desa Senanggalih, Sugian dan desa Labu Pandan.  Sedangkan desa Sembalun Bumbung, Sembalun Lawang dan desa Sembalun mewakili kecamatan Sembalun.

Melalui  desa wisata sebanyak 18 desa tersebut dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan UPH ke dalam desa wisata. Sampai saat inipun banyak kelompok UPH yang terdapat di desa wisata tersebut, sehingga dengan pembinaan yang terus menerus dari berbagai dinas untuk membina kelompok sehingga produk yang dihasilkan dapat dijual dan mengundang minat dari pengunjung/turis yang berkunjung ke Lombok Timur dan khususnya desa wiasata tersebut baik sebagai konsumsi maupun sebagai oleh-oleh. Pembinaan dapat diarahkan kepada manajemen kelompok dan manajemen produksi pengolahan sehingga didapatkan produk yang higienis, produk yang menarik dan laku dijual (market friendly) serta memiliki kelengkapan pendukung produk olahan seperti PIRT dan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

*Penulis adalah Kepala Bidang Pengembangan Usaha Peternakan, Disnakeswan Lotim

  • Selasa, 09 Juni 2020 - 14:37:22 WIB
  • drh. S. Wahyudi, M.Si

Berita Terkait Lainnya