Geliat Usaha Unit Pengolahan Hasil Peternakan di Tengah Pandemik Covid-19

  • Kamis, 10 September 2020 - 10:23:03 WIB
  • drh. S. Wahyudi, M.Si
Geliat Usaha Unit Pengolahan Hasil Peternakan di Tengah Pandemik Covid-19

Pandemik Covid-19 yang melanda hampir semua Negara di Dunia memberikan dampak yang luar  biasa bagi kehidupan masyarakat, tidak saja dampak sosial budaya akan tetapi menyebabkan dampak ekonomi yang demikian hebatnya. Indonesia sampai saat ini bahkan menjadi Negara yang mengalami guncangan perekonomian yang demikian berat ditengah-tengah pandemik Covid-19 tersebut. Tidak ada Provinsi yang bebas dari Covid-19 sehingga selain memberikan dampak kepada aspek kesehatan, dampak lainnya juga turut terpengaruh terutama sektor perekonomian.

Sektor peternakan secara khusus merupakan salah satu penopang sektor pertanian secara umum telah lama diandalkan menjadi salah satu sektor yang mendorong perekonomian dan beberapa kali teruji sebagai salah satu penopang perekonomian yang mampu bertahan ditengah badai krisis ekonomi yang pernah melanda bangsa Indonesia.

Ditengah Covid-19 saat sekarang ini yang telah melanda Indonesia, pergerakan perekonomian atau geliat usaha di bidang pengolahan hasil peternakan tidak ketinggalan mengalami dampak yang cukup berat oleh pelaku usaha di sektor ini yang notebane adalah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Unit Pengolahan Hasil (UPH) Peternakan seperti pengolahan kerupuk kulit, telur asin dan pengolahan Abon  semenjak wabah Covid-19 tersebut mengalami penurunan produksi yang cukup tajam bahkan terdapat UPH yang tidak berproduksi sama sekali. Hal ini disebabkan oleh turunnya permintaan dan sampai tidak ada pesanan sama sekali selama beberapa bulan di awal-awal merebaknya kasus Covid-19.

Seperti yang diutarakan oleh salah satu kelompok UPH Telur Asin KTT Bangket Punik, sebelum wabah Covid-19, UPH ini mampu berproduksi per hari  40 tray atau sekitar 1.200 butir dengan pemasaran sampai ke luar daerah meliputi Kota Bima dan Sumbawa dan beberapa kota dalam Propvinsi seperti Mataram dan Praya Lombok Tengah. Namun semenjak Covid-19, kapasitas produksi antara 10-15 tray per hari dan hanya terserap di sekitar Lombok Timur. “ Jelas Inaq Zak, Pengurus UPH KTT. Bangket Punik, Desa Lenek Daya, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur”.

Senada dengan Inaq Zaki, Fatmala Handayani, ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Rizky Athalla, Desa Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur menuturkan  bahwa sejak Covid-19 kapasitas produksi telur bakar yang diproduksinya mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pemesanan oleh konsumen. Biasanya pengiriman sampai ke Bali, tapi sekarang tidak ada lagi permintaan, “Ujarnya, saat ditemuai di lokasi produksinya”. “Dulu produksi sampai 300 butir per hari, akan tetapi sekarang maksimal kita berani buat sampai 50 butir saja, tambahnya”.

Selain telur asin, UPH Kerupuk Kulit yang memproduksi krupuk kulit sapi di Lendang Bedurik, Kelurahan Kelayu Utara, Kecamatan Selong juga mengeluhkan terjadinya penurunan pesanan yang berdampak ke produksi kerupuk yang dihasilkan. “ Inaq Nia menuturkan bahwa sebelum Covid-19, pemasukan dari penjualan rata-rata krupuk kulitnya berkisar antara Rp.500.000 sampai Rp. 1.500.000 per hari, akan tetapi sekarang semenjak Covid-19 ini melanda,  pemasukan dari penjualan krupuk kulit yang dulunya per hari sekarang pemasukan seminggu hanya maksimal Rp. 1.500.000,-“.

  • Kamis, 10 September 2020 - 10:23:03 WIB
  • drh. S. Wahyudi, M.Si

Berita Terkait Lainnya