Disnakeswan Laksanakan Pengajian Rutin Bulanan

  • Jumat, 03 September 2021 - 21:34:25 WIB
  • drh. S. Wahyudi, M.Si
Disnakeswan Laksanakan Pengajian Rutin Bulanan

Dalam rangka meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT bagi karyawan dan karyawati lingkup Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, maka setiap hari Jum’at minggu pertama diisi dengan kegiatan bimbingan rohani  melalui pengajian rutin.

Bertempat di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur, Jumat (03/09/2021), digelar pengajian dengan mengundang Ustad Ridwan, LC, salah seorang Dai yang berasal dari Lenek dan saat ini popular mengisi jadwal-jadwal pengajian di Lombok Timur bahkan sampai ke luar daerah.

Kesempatan pengajian kali ini banyak hal yang disampaikan oleh Ustad Ridwan, diantaranya asal mula penetapan kalender Hijriyah sebagai kalender resmi umat Islam.

Tersusunnya tahun baru Hijriyah dimulai dari inisiatif di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, tepatnya pada 638 Masehi. Dalam sebuah riwayat, disebutkan tentang adanya dokumen surat-surat yang tertanggal Sya'ban tetapi tidak diketahui apakah Sya'ban yang dimaksud ini merujuk pada tahun lalu atau tahun sekarang.

Saat itu surat-menyurat antar wilayah kegubernuran dengan pusat belum rapi akibat tidak adanya rujukan penanggalan. Bahkan setiap daerah mencatat penanggalan dengan sistem kalender lokal yang sering berbeda antara satu tempat dengan lainnya.

Lantas, Umar pun mengumpulkan para sahabat untuk berdiskusi soal bagaimana baiknya dalam menyelesaikan masalah penanggalan tersebut. Sebab, sejak Nabi Muhammad SAW hijrah  ke Madinah belum ada sistem penanggalan, termasuk ketika masuk di era kekhalifahan Abu Bakar.

Empat tahun pertama kekhalifahan Umar bin Khattab pun sebetulnya belum ada sistem penanggalan yang dikenal sekarang sebagai tahun Hijriyah. Umar mengakui, saat itu urusan perbendaharaan negara semakin banyak sehingga butuh sistem penanggalan yang jelas.

Setelah melewati proses diskusi, ada yang mengusulkan agar tahun lahir atau tahun wafat Nabi Muhammad SAW menjadi titik awal penanggalan kalender Islam. Namun, pada akhirnya diputuskan bahwa penanggalannya dimulai sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang kemudian disebut dengan kalender Hijriyah. Konsekuensinya, penanggalan kalender tersebut diberlakukan mundur 17 tahun.

Alasan mengapa peristiwa hijrah Nabi Muhammad beserta para pengikutnya menjadi titik awal tahun Hijriyah, karena peristiwa itu adalah peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Apalagi peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan Nabi dan umatnya.

Satu tahun hijriyah terdapat 12 bulan: Muharram; Shafar; Rabi'ul Awal; Rabi'ul Akhir; Jumadil Awal; Jumadil Akhir; Rajab; Sya'ban; Ramadhan; Syawal; Dzulqa'idah; Dzulhijjah. Ada empat bulan Haram, yang di dalamnya tidak boleh ada pertumpahan darah, yaitu Dzulqa'idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Selain menguraikan asal mula penetapan kalender Hijriyah, beberapa topik yang disampaikan antara lain tentang keutamaan Istigfar, pemimpin yang adil serta menjawab pertanyaan yang diajukan dari pendengar terkait tata cara wudhu sampai sholat yang sempurna. Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, dengan gaya khasnya yang kocak Ustad Ridwan menutup ceramahnya dengan menyatakan bahwa perlu praktek lanjutan khusus membicarakan tentang tata cara sholat yang benar sehingga dapat mencapai sholat yang khusyuk. “ karena panjang temanya kalau terkait tata cara wudhu sampai sholat sebaiknya kita ketemu lagi next time, pungkasnya”.

 

 

 

 

 

  • Jumat, 03 September 2021 - 21:34:25 WIB
  • drh. S. Wahyudi, M.Si

Berita Terkait Lainnya